Teliti Air Limbah Tahu Sebagai Sumber Energi Terbarukan, Suparni Raih Doktor Ilmu Lingkungan Undip


07 Maret 2017 - Juli Widiyanto

Dosen Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang (Polines) Dra Suparni Setyowati Rahayu, M.Si berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu lingkungan di Universitas Diponegoro (Undip).

Disertasi dengan judul “Integrasi Produksi Bersih dan Pengolahan Air Limbah Industri Kecil Tahu Menjadi Biogas Sebagai Energi Terbarukan dengan Menggunakan Anaerobic Sequencing Batch Reactor (AnSBR)” disampaikannnya dalam ujian terbuka (promosi) doktor ilmu lingkungan, sekolah pascasarjana Undip, di kampus Pascasarjana Undip, Senin (6/3).

Selaku ketua penguji dalam desertasi ini adalah Prof Dr. Ir. Purwanto, DEA, dengan sekretaris penguji, Dr Hartuti Purnaweni, MPA. Sedangkan anggota penguji adalah, Dr Ir Sudarsono, MT, Dr H Totok Prasetyo, BEng, MT, Dr Ir. Hermawan, DEA, Dr. Henna Rya Sunoko, Apt, MES, dan Prof Dr Ir Budiyono, MSi.

Suparni Setyowati Rahayu mengatakan, energi merupakan salah satu faktor yang penting bagi terwujudnya kesejahteraan manusia secara global. Oleh sebab itu pengembangan teknologi produksi biogas menjadi energi terbarukan dari limbah tahu dalam upaya diversifikasi energi merupakan upaya yang perlu dikembangkan. “Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengembangkan sistem energi terbarukan dari pengolahan air limbah tahu dengan reaktor AnSBR dengan memanfaatkan lumpur selokan sebagai inokulum,' jelasnya.

Dalam penyusunan disertasinya ini, lokasi yang dipilih untuk penelitian adalah Pedukuhan Pesalakan, Desa Adiwerna, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal. Lokasi itu dipilih, karena di daerah tersebut berkembang industri tahu yang merupakan salah satu mata pencaharian khas bagi sebagian besar masyarakat. Terdapat 342 unit usaha tahu di daerah tersebut yang produksinya mampu mensuplai kebutuhan masyarakat akan produk tahu untuk wilayah Kabupaten Tegal, Brebes sampai Cirebon. Proses. Namun, air limbah dari industri tahu tersebut berpotensi mencemari lingkungan. Kadar bahan organik yang tinggi pada buangan air serta bahan yang terikat dalam air pada proses pengolahan tahu dapat menyebabkn gangguan pada ekologi ligkungan. Padahal bahan organik sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kegiatan lain yaitu bahan baku pembentukan biogas.

Teknologi pengolahan air limbah ini secara terintegrasi dengan penerapan produksi bersih dapat dilaksanakan pada industry tahu yang sudah memiliki digester konvensional maupun reactor AnSBR sebagai penghasil biogas yang beroperasi secara kontinyu dengan inoculum lumpur selokan sebesar 20%. Apabila industri tahu berskala kecil dapat digabungkan dengan industri lainnya asal tempatnya berdekatan, ungkapnya, sehingga pengolahan air limbahnya dapat menggunakan AnSBR secara komunal. Dalam sebuah sentra industry tahu akan lebih mudah untuk mengumpulkan air limbah yang dihasilkan karena dalam sentra tersebut letak industry tahu terkonsentrasi dalam suatu wilayah. Dari seluruh penelitian ini, Suparni mengatakan kebaruan dari penelitian ini adalah mendapatkan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan melalui konsep teknologi penggunaan reaktor AnSBR dan inoculum lumpur selokan dari limbah industri tahu secara terintegrasi sehingga didapatkan efisiensi energi.